1. Bunga Tunggal
Bunga Tunggal = Pokok × Tingkat Bunga × Waktu
Keterangan:
- Pokok: Jumlah modal awal.
- Tingkat Bunga: Persentase bunga setiap periode (umumnya tahunan).
- Waktu: Lama periode yang dihitung dalam tahun.
Jawab:
Bunga Tunggal = Pokok × Tingkat Bunga × Waktu
= Rp70 juta × 10% × 5
= Rp7 juta × 5
= Rp35 juta
Total Investasi = Pokok Awal + Bunga
= Rp70 juta + Rp35 juta
= Rp105 juta
Jadi, bunga tunggal yang akan diperoleh Pak Raden setelah berdeposito selama 5 tahun adalah Rp35 juta. Dengan demikian, besar total dana yang dimiliki Pak Raden dari deposito selama 5 tahun adalah Rp105 juta.
Jawab:
Bunga Tunggal = Pokok x Tingkat Bunga x Waktu
= Rp20 juta x 5% x 3
= Rp1 juta x 3
= Rp3 juta
Total = Pokok Pinjaman + Bunga
= Rp20 juta + Rp3 juta
= Rp23 juta
2. Bunga Majemuk
Bunga majemuk prinsipnya diberikan berdasarkan modal awal dan akumulasi dari bunga periode sebelumnya, sehingga besar bunga setiap periodenya tidak sama. Jadi bisa kita simpulkan Bunga majemuk adalah bunga yang dihitung berdasarkan pokok awal, yang juga mencakup semua bunga akumulasi dari deposito atau pinjaman periode sebelumnya.
1. Ibu menabung sebesar Rp.100.000,00 dengan bunga majemuk 4,5% tiap triwulan. Tentukanlah saldo tabungan Ibu setelah 3,5 tahun
Jawab:
Diketahui:
M0=Rp.100.000,00
I=4,5%=0,045
1 tahun = 4 triwulan
3,5 tahun = 3,5 4triwulan = 14 triwulan, maka n=14
Saldo tabungan Ibu setelah 3,5 tahun atau setelah 14 triwulan adalah:
2. Doni mendepositokan uang di Bank sebesar Rp.10.000.000,00 selama 10 tahun dengan suku bunga majemuk 5% per tahun. Besar bunga yang didapatkan pada tahun ke-10 adalah
Jawab:
Diketahui:
M0 = Rp.10.000.000,00
n = 10
i = 5% = 0,05
Bunga yang didapatkan pada tahun ke-10:
Jadi bunga yang didapatkan pada tahun ke-10 sekitar Rp.775.664,00.
3. Anuitas
Seringkali orang bingung membedakan antara sistem anuitas dengan sistem angsuran biasa (sistem menurun). Berikut perbedaannya:
- Anuitas: Total cicilan bulanan tetap konstan. Cocok untuk kamu yang ingin kepastian anggaran bulanan. Di awal pembayaran, bunga lebih besar, lalu perlahan menurun seiring pokok meningkat.
- Angsuran (Sistem Menurun): Total cicilan berkurang setiap bulan. Porsi pokok dan bunga menurun bersamaan. Cocok untuk kamu yang ingin melunasi pokok
Rumus Anuitas
Perhitungan anuitas memerlukan rumus yang memungkinkan jumlah angsuran bulanan tetap sama, walaupun porsi pokok dan bunga berubah. Berikut dua rumus yang umum digunakan:
Rumus Dasar Anuitas
Bunga = SP × i × (30/360)
Keterangan:
SP = Saldo pokok pinjaman pada bulan sebelumnya.
i = Suku bunga tahunan..
30 = Jumlah hari dalam sebulan.
360 = Jumlah hari dalam setahun.
P × i × [(1 + i)áµ— / (1 + i)áµ— - 1]
Keterangan:
P = Pokok pinjaman.
i = Suku bunga per periode.
t = Tenor atau jumlah periode kredit.
Contoh atau Simulasinya
Supaya semakin jelas mengenai perhitungan mengenai anuitas, yuk perhatikan simulasi atau contoh berikut ini . Kamu adalah seorang pebisnis UMKM yang memiliki utang modal usaha sebesar Rp12 juta. Utang ini memiliki periode pembayaran selama 12 bulan atau satu tahun dengan bunga 10 persen. Yuk kita hitung jumlah bunga yang harus dibayar dan jumlah cicilan per bulan. Berdasarkan rumus bunga anuitas, maka cicilan bulanan dihitung dengan cara berikut.
12.000.000 x 0,83% x (1,105 / 0,105) = Rp1.054.991,-
Maka untuk perhitungan bunganya kamu bisa lihat di tabel bawah ini. Pastikan juga kamu sudah menghitung besaran bunga anuitas seperti di rumus diatas.
4. Fungsi Penawaran dan Permintaan
Telah di ketahui dalam hukum ekonomi, jika harga naik – ceteris paribus – maka permintaan akan turun, dan jika harga turun – ceteris paribus – maka permintaan akan naik.
Fungsi Permintaan
Fungsi Penawaran
Contoh Soal Fungsi Permintaan
Jika harga barang Rp60,000 per unit, maka jumlah permintaan 20 unit. Dan jika harga barang Rp40,000 per unit, maka jumlah permintaan 30 unit. Tentukan persamaan fungsi permintaan!
Penyelesaian:
Diketahui:
P1 = 60 Q1 = 20
P2 = 40 Q2 = 30
Nah, setelah ini teman-teman bisa pakai rumus








Sehingga menjadi,

Contoh Soal Fungsi Penawaran
Soal 1
Diketahui fungsi penawaran suatu barang adalah Qs = 100 + 5P. Berapa jumlah barang yang ditawarkan jika harga barang tersebut Rp50?
Pembahasan:
Fungsi penawaran: Qs = 100 + 5P
Harga (P) = 50
Langkah-langkah:
1. Masukkan nilai P ke dalam fungsi penawaran
2. Hitung hasilnya
Qs = 100 + 5(50)
= 100 + 250
= 350 unit
Jadi, pada harga Rp50, jumlah barang yang ditawarkan adalah 350 unit.
Soal 2
Jika fungsi penawaran sebuah produk adalah Qs = 50 + 2P, pada harga berapakah jumlah yang ditawarkan sebanyak 150 unit?
Pembahasan:
Fungsi penawaran: Qs = 50 + 2P
Jumlah yang ditawarkan (Qs) = 150 unit
Langkah-langkah:
1. Substitusi Qs dengan 150
2. Selesaikan persamaan untuk P
150 = 50 + 2P
100 = 2P
P = 100 / 2 = 50
Jadi, jumlah yang ditawarkan akan mencapai 150 unit pada harga Rp50.
Soal 3
Fungsi penawaran suatu barang adalah Qs = -30 + 3P. Berapakah harga terendah agar produsen bersedia memproduksi?
Pembahasan:
Fungsi penawaran: Qs = -30 + 3P
Langkah-langkah:
1. Produsen akan memproduksi jika Qs > 0
2. Selesaikan ketidaksamaan untuk P
-30 + 3P > 0
3P > 30
P > 10
Jadi, harga terendah agar produsen bersedia memproduksi adalah Rp10. Pada harga ini, Qs = 0, dan pada harga di atasnya, Qs akan positif
5. Program Linear
Program Linear

Memodelkan Matematika dengan Program Linear




Grafik fungsi kuadrat memiliki beberapa ciri, di antaranya yaitu:
1. Berbentuk parabola
2. Grafiknya simetris
3. Hanya memiliki titik maksimum saja atau titik minimum saja, namun tidak keduanya
Bentuk Umum Fungsi Kuadrat
Fungsi kuadrat merupakan aturan yang memasangkan semua anggota daerah asal tepat satu ke daerah kawan dengan pangkat pada variabel tertingginya adalah dua.
Bentuk umum dari fungsi kuadrat yaitu f(x) = ax2 + bx + c, dengan keterangan sebagai berikut:
Keterangan:
a = koefisien dari x2, di mana a ≠ 0
b = koefisien dari x
c = konstanta
Ada tiga macam rumus yang bisa kita pakai untuk merumuskan fungsi kuadrat berdasarkan grafik, yaitu:
- Jika pada grafik diketahui 2 titik sembarang pada sumbu x, maka menggunakan rumus y = a(x – x1)(x – x2).
- Jika pada grafik diketahui titik puncak (xp, yp) dan 1 titik sembarang, maka menggunakan rumus y = a(x – xp)2 + yp.
- Jika pada grafik diketahui 3 titik sembarang, maka menggunakan bentuk umum fungsi kuadrat yaitu y = ax2 + bx + c, lalu gunakan eliminasi untuk mencari nilai a, b, dan c.
Contoh Soal Grafik Fungsi Kuadrat
Sekarang, kita kerjakan contoh soal, yuk! Coba kamu perhatikan grafik berikut:

Dari grafik tersebut, diketahui titik puncak atau titik balik dari suatu fungsi kuadrat, yaitu di titik (2, 1). Selain itu, diketahui juga 1 titik sembarang yaitu (1, 2). Coba rumuskan fungsi kuadratnya!
Jawaban:
Diketahui dari soal bahwa:
- (xp, yp) = (2, 1)
- Titik sembarang = (1, 2)
Nah, sesuai penjelasan tadi, jika pada grafik diketahui titik puncak (xp, yp) dan 1 titik sembarang, maka kita menggunakan rumus:
y = a(x – xp)2 + yp
Yuk, kita coba uraikan!
y = a(x – xp)2 + yp
2 = a(1 – 2)2 + 1
2 = a(-1)2 + 1
2 = a(1) + 1
2 = a + 1
a = 2 – 1
a = 1
Karena titik puncaknya di (2, 1) dan nilai a = 1, maka fungsi kuadratnya:
y = a(x – xp)2 + yp
y = 1(x – 2)2 + 1
y = x2 – 4x + 4 + 1
y = x2 – 4x + 5
Dua orang berangkat pada waktu yang sama dan dari tempat yang sama, serta bepergian melalui jalan-jalan yang saling tegak lurus. Seseorang bepergian dengan kecepatan 4
Sifat-Sifat Eksponen
Ada beberapa sifat yang bisa kamu ketahui dalam memahami eksponen, di antaranya:
1. Pangkat Penjumlahan
am · an = am + n (perkalian eksponen dengan basis yang sama, maka pangkatnya harus ditambah)
Contoh: 42 . 43 = 42 + 3 = 45
2. Pangkat Pengurangan
am : an = am – n (pembagian eksponen dengan basis yang sama, maka pangkatnya harus dikurang)
Contoh: 45 : 43 = 45 – 3 = 42
3. Pangkat Perkalian
(am)n = am × n (jika bilangan berpangkat dipangkatkan lagi, maka pangkatnya harus dikali)
Contoh: (42)3 = 42 × 3 = 46
4. Perkalian Bilangan yang Dipangkatkan
(a · b)m = am· bm (perkalian bilangan yang dipangkatkan, maka masing-masing bilangan tersebut dipangkatkan juga)
Contoh: (3. 5)2 = 32. 52
5. Perpangkatan pada Bilangan Pecahan
Untuk bilangan pecahan yang dipangkatkan, maka bilangan pembilang dan penyebutnya harus dipangkatkan semua, dengan syarat nilai “b” atau penyebutnya tidak boleh sama dengan 0.
Contoh:
6. Pangkat Negatif
Pada sifat ini, jika (an)di bawah itu positif, maka saat dipindahkan ke atas menjadi negatif. Begitu juga sebaliknya, jika (an) di bawah itu negatif, maka saat dipindahkan ke atas menjadi positif. Kita lihat rumus dan contohnya ya.

Contoh:
7. Pangkat Pecahan
Pada sifat ini, kamu bisa lihat, terdapat akar n dari am. Nah, ketika diubah jadi eksponen, akar n menjadi penyebut dan pangkat m menjadi pembilang, dengan syarat nilai n harus lebih besar atau sama dengan dua (n ≥ 2). Kita lihat rumus dan contohnya ya.
Contoh:
8. Pangkat Nol
a0 = 1
Contoh
- Jika Anda berencana menabung Rp 10.000.000 dalam 10 tahun ke depan. Berapa banyak uang yang harus Anda tabung per tahun jika bunga majemuk 24% per tahun? Inilah solusinya. Dalam menentukan penyelesaian diterapkan prinsip bunga majemuk yaitu y = p(1+) mt dengan keterangan sebagai berikut:
y: modal akhir, p: modal pertama, r: bunga besar, m: jumlah bunga, t: waktu
10.000.000 = p(1 + 0,241)10
10.000.000 = (1,24)10
P = 10.000.0001,24. 10
P = 10.000.00012.4
P = 806.451,61








0 Comments